Minggu, 25 Juli 2010

SEJARAH MANUSIA “PERJUANGAN ANTAR KELAS”

Manusia bebas dan budak, bangsawan dan jelata, tuan dan pelayan, guildmaster dan journeyman, singkatnya, penindas dan yang ditindas, berdiri dalam oposisi yang konstan terhadap lainnya, yang terjadi tanpa terputus, kini tersembunyi, sekarang perang terbuka, sebuah pertentangan yang setiap waktu berakhir dalam suatu rekonstitusi masyarakat bebas yang revolusioner atau dalam kejatuhan bersama dari kelas yang menentang.
Dalam jaman permulaan sejarah, kita menjumpai hampir dimana saja sebuah susunan masyarakat yang rumit ke dalam bermacam orde, sebuah gradasi kedudukan sosial yang bermacam-macam. Dalam Roma kuno kita menemukan kaum bangsawan, ksatria, jelata, budak; dalam Jaman Pertengahan, para tuan feodal, pemilik tanah, guildmaster, journeyman, magang, pelayan; dalam hampir semua kelas ini, kembali, mensubordinasi gradasi-gradasi.
Masyarakat borjuis modern yang telah tumbuh dari kejatuhan masyarakat feodal belum menghilangkan antagonisme-antagonisme kelas. Selain ia telah membentuk kelas-kelas baru, kondisi-kondisi penindasan baru, bentuk-bentuk baru perlawanan yang menggantian bentuk dari masa silam.
Jaman kita, jaman kaum borjuis, memiliki, bagaimanapun, sifat-sifat yang berlainan ini: ia telah menyederhanakan antagonisme kelas. Masyarakat sebagai suatu keseluruhan lebih dan sangat terbagi ke dalam dua kubu yang sangat bertentangan, ke dalam dua kelas besar yang secara langsung berhadapan satu sama lain--kaum borjuis dan proletar.
Kebangkitan Kaum Borjuis dari para pelayan pada Jaman Pertengahan memunculkan kontrak kewarga-negaraan dari kota-kota permulaan. Dari pemberian hak penuh sebagai warga negara ini, elemen-elemen pertama kaum borjuis dikembangkan.
Penemuan Benua Amerika, pengelilingan Tanjung, membuka lahan baru bagi kaum borjuis yang bertumbuh ini. Pasar-pasar Indian Timur dan Cina, kolonisasi Amerika, perdagangan dengan daerah koloni, peningkatan sarana-sarana pertukaran dan komoditas secara umum memberikan suatu letupan yang belum pernah dikenal sebelum terhadap perdagangan, navigasi, dan industri, dan dengan demikian, sebuah perkembangan yang cepat terhadap elemen-elemen revolusioner dalam masyarakat feodal yang goyah.
Sistem industri feodal, dimana produksi industrial dimonopoli oleh para gilda yang tertutup, kini tidak lama dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang bertumbuh dari pasar-pasar baru. Sistem manufaktur mengambil-alih kedudukannya. Para guildmaster disingkirkan oleh kelas menengah manufaktur; pembagian kerja antara perusahaan gilda yang berbeda menghilang dalam menghadapi pembagian kerja dalam setiap bengkel kerja tunggal.
Dalam pada itu, pasar-pasar terus bertumbuh, permintaan selalu menaik. Bahkan tidak lama manufaktur dapat mencukupi. Setelah itu, permesinan dan uap memberikan revolusi terhadap produksi industri. Tempat manufaktur diambil oleh industri raksasa dan modern; tempat kelas menengah industrial diambil alih oleh para milyuner industri--para pimpinan dari seluruh industri militer, kaum borjuis modern.
Industri modern telah membentuk pasar dunia, dimana penemuan Benua Amerika meratakan jalannya. Pasar ini telah memberikan suatu perkembangan yang besar terhadap perdagangan, navigasi, dan komunikasi darat. Perkembangan ini telah, sebaliknya, bereaksi pada peluasan industri ; dan, dalam proporsi sebagai industri, perdagangan, navigasi, dan jalan kereta api diperluas, dalam proporsi yang sama kaum borjuis berkembang, meningkatkan kapital-nya, dan menyingkirkan setiap kelas yang dijatuhkan Pada jaman pertengahan. Kita melihat, karenanya, bagaimana kaum borjuis modern sendiri merupakan produk dari sebuah perjalanan panjang, dari suatu rangkaian revolusi dalam model-model produksi dan pertukaran. Setiap tahap perkembangan kaum borjuis disertai dengan suatu kemajuan politis yang berhubungan dengan kelas ini. Sebuah kelas yang tertindas di bawah kekuasaan kebangsawanan feodal, menjadi sebuah asosiasi yang mengatur dirinya sendiri dan bersenjata pada komune pertengahan; disini republik kota yang independen (seperti di Italia dan Jerman), disana "tanah milik ketiga" yang dikenakan pajak dari monarki (seperti di Prancis); kemudian, dalam periode manufaktur yang sesungguhnya, yang melayani monarki semi-feodal atau absolut sebagai sebuah penyeimbang teradap bangsawan dan, nyatanya, merupakan landasan monarki-monarki besar umumnya--kaum borjuis akhirnya, sejak pembentukan industri modern dan pasar dunia, menaklukkan bagi dirinya, dalam negara representatif modern, kekuasaan politis yang eksklusif. Eksekutif negara modern adalah tidak lain dari sebuah komite yang menangani masalah-maslah bersama dari seluruh kaum borjuis.... Lebih jauh, kaum borjuis tetap menyingkirkan populasi, sarana-sarana produksi, dan kepemilikan negara yang terpecah-pecah. Ia telah mengelompokkan populasi, mensentralisasikan sarana-sarana produksi, dan telah mengkonsentrasikan kepemilikan dalam tangan sekelompok kecil orang. Konsekuensi penting darinya adalah sentralisasi politis. Propinsi-propinsi yang independen dihubungkan dengan kepentingan, hukum, pemerintah, dan sistem pajak yang terpisah disatukan menjadi satu nasion, dengan satu pemerintah, satu sistem hukum, satu kepentingan kelas nasional, satu perbatasan, dan satu tarif pabean.
Kaum borjuis... telah menciptakan kekuatan-kekuatan produktif yang lebih kolosal dari yang pernah ada dari semua generasi yang mendahuluinya. Pemusatan kekuatan-kekuatan alam pada manusia, mesin, aplikasi kimawi atas industri dan pertanian, navigasi uap, jalan kereta api, telegraf listrik, pembersihan seluruh dunia untuk penanaman, kanalisasi sungai-sungai, seluruh populasi dibangkitkan--apakah abad permulaan pernah memiliki suatu firasat bahwa kekuatan-kekuatan produktif ini dilenakan dalam bagian kerja sosial?
Kita lihat kemudian bahwa sarana-sarana produksi dan pertukaran, yang melayani sebagai sebuah landasan bagi pertumbuhan kaum borjuis, dilahirkan dalam masyarakat feodal. Pada suatu tahap tertentu dalam perkembangan sarana-sarana produksi dan pertukaran ini, kondisi-kondisi di bawah mana masyarakat berproduksi dan melakukan pertukaran, organisasi pertanian feodal dan industri manufaktur--singkatnya, relasi-relasi kepemilikan feodal--tidak lama harmonis dengan kekuatan-kekuatan produktif yang baru berkembang; mereka menjadi banyak menciptakan belenggu. Mereka harus dihancur-leburkan; mereka dihancur-leburkan.
Ke dalam kedudukan mereka dijejakkan kompetisi bebas, yang disertai dengan suatu konstitusi politis dan sosial yang diadaptasikan kepadanya dan dengan kekuasaan politis dan ekonomi kelas borjuis.


Kebangkitan kaum proletar sebuah gerakan yang sama sedang terjadi di depan mata kita. Masyarakat borjuis modern, dengan relasi-relasi produksi, pertukaran, dan kepemilikannya--sebuah masyarakat yang telah bangkit dengan sarana-sarana produksi dan pertukaran raksasa--seperti tukang sihir yang tidak dapat lama mengendalikan kekuasaan-kekuasan atas dunia bawah yang telah didatangkannya dengan mantra-mantranya. Selama beberapa dekade, sejarah industri dan perdagangan adalah tidak lain daripada sejarah pemberontakan kekuatan-kekuatan produktif modern melawan kondisi-kondisi produksi modern, melawan relasi-relasi kepemilikan yang merupakan kondisi-kondisi bagi eksistensi kaum borjuis dan penguasaannya. Tidak cukup untuk menyebutkan krisis komersial yang dengan keuntungan periodis-nya meletakkan eksistensi keseluruhan masyarakat borjuis pada pengadilan, setiap kalilebih mengancam. Dalam krisis-krisis ini, sebuah bagian besar, tidak hanya produk-produk yang ada, namun juga yang sebelumnya menciptakan kekuatan-kekuatan produktif, secara periodis dihancurkan.
Dalam krisis-krisis ini, terdapat penghancuran terhadap epidemi yang, dalam seluruh jaman permulaan, akan menampakan suatu absurditas--epidemi kelebihan produksi (over production). Masyarakat tiba-tiba menyadari dirinya sendiri diletakkan kembali ke dalam sebuah negara barbarisme sementara; yang muncul seolah sebagai kelaparan, suatu perang penghancuran universal, yang memotong suplai setiap sarana subsistensi; industri dan perdagangan nampaknya akan dihancurkan. Dan mengapa? Karena terdapat terlalu peradaban terlalu banyak subsistensi, terlalu banyak industri, terlalu banyak perdagangan. Kekuatan-kekuatan produktif dalam pembagian masyarakat tidak lama terlalu jauh cenderung kepada perkembangan kondisi-kondisi kepemilikan kaum borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlalu berkuasa bagi kondisi-kondisi ini, dimana mereka dibelenggu, dan mereka tidak segera menguasai belenggu-belenggu ini sehingga membawa kekacauan pada keseluruhan masyarakat borjuis, membahayakan eksistensi kepemilikan borjuis. Kondisi-kondisi masyarakat terlalu sempit untuk memuat kemakmuran yang diciptakan mereka. Dan bagaimana kaum borjuis mengatasi krisis-krisis ini? Di pihak lain, dengan destruksi paksa terhadap massa kekuatan-kekuatan produksi ; di pihak lain, dengan penaklukan pasar-pasar baru dan dengan eksploitasi yang lebih tidak tanggung-tanggung terhadap yang lama. Dengan kata lain, dengan meratakan jalan bagi krisis-krisis yang lebih destruktif dan dengan mengurangi sarana-sarana dimana krisis-krisis dicegah. Senjata-senjata yang dipakai kaum borjuis untuk meruntuhkan feodalisme kini berubah menjadi melawan kaum borjuis sendiri. Namun tidak hanya kaum borjuis telah menempa senjata-senjata yang membawa kematian pada dirinya sendiri ; ia juga menarik kembali eksistensi manusia yang akan memegang senjata-senjata itu --kelas pekerja modern, kaum proletar.
Dalam proporsi sebagai kaum borjuis, misalnya, kapital, dikembangkan, dalam proporsi yang sama kaum proletar, kelas pekerja modern, mengembangkan--sebuah kelas para pekerja yang hidup hanya selama mereka mendapatkan pekerjaan dan yang mendapatkan pekerja hanya selama kerja mereka dapat meningkatkan kapital. Para pekerja ini, yang harus menjual dirinya sedikit demi sedikit, merupakan komoditas, seperti setiap barang dagangan lainnya, dan secara konsekuen dibuka (tergantung) terhadap semua perubahan kompetisi, terhadap semua fluktuasi pasar.
Karena penggunaan ekstensif permesinan dan pembagian kerja, kerja kaum proletar telah kehilangan karakter individual dan, secara konsekuen, semua daya tarik seorang pekerja. Ia menjadi sebuah embel-embel dari mesin, dan hanya ketrampilan sederhana, monoton, dan lebih mudah yang dibutuhkan darinya. Karenanya, biaya produksi seorang pekerja dibatasi hampur seluruhnya dibatasi terhadap sarana-sarana subsistensi yang ia butuhkan bagi biaya dan perbaikan hidup. Namun harga komoditas, dan karenanya juga tenaga kerja, sama dengan biaya produksinya. Dalam proporsi, karenanya, sebagai kelebihan kerja yang meningkat, upah menjadi turun. Lebih lagi, dalam proporsi sebagai akibat penggunaan mesin dan pembagian kerja yang meningkat, dalam proporsi yang sama beban kerja keras juga meningkat, karena perpanjangan jam kerja,peningkatan kerja yang ditetapkan pada waktu yang ada, atau oleh peningkatan kecepatan mesin, dan lain-lain.
Industri modern telah sedikit mengubah bengkerl kerja dengan tuan yang patriarkal menjadi pabrik kapitalis industrial yang besar. Massa pekerja, dibaurkan ke dalam pabrik, yang diorganisasikan seperti tentara. Sebagai prajurit biasa dari industri dengan sistem seperti itu, mereka ditempatkan dibawah komando hirarki para pejabat dan para sersan yang sempurna. Mereka tidak hanya sebagai budak dari kelas borjuis dan negara borjuis, setiap jam dan hari mereka diperbudak oleh mesin, mandor, dan, di atas segalanya, oleh individu borjuis pemilik manufaktur sendiri. Secara lebih terbuka, despotisme ini menyatakan keuntungan sebagai akhir dan tujuannya ; betapa picik, menjengkelkan, dan menyakitkan hati hal ini.
Ketrampilan yang rendah dan pemerasan tenaga diimplikasikan dalam kerja manual, singkatnya, industri yang lebih modern berkembang, lebih banyak pekerja pria (dibutuhkan) menggantikan pekerja wanita. Perbedaan usia dan jenis kelamin tidak memiliki kesahihan sosial yang berbeda bagi kelas pekerja. Semuanya merupakan instrumen kerja, yang tinggi-rendahnya digunakan, tergantung pada usia dan jenis kelamin mereka. Para buruh tidak lama menerima upahnya secara tunai, yang untuk sesaat menghapus eksploitasi oleh para penguasaha manufaktur, kemudian para buruh diserang oleh bagian-bagian borjuis lainnya, tuan tanah, pemilik toko, pemilik pegadaian, dan lain-lain.
Strata terbawah kelas menengah--para pedagang kecil, para pemilik toko, pedagang yang umumnya sudah pensiun, pengrajin dan petani--semuanya tenggelam secara bertahap menjadi kaum proletar, sebagian karena kapital mereka yang kecil tidak mencukupi bagi skala industri modern yang dijalankan dan dibanjiri dengan persaingan kaum kapitalis besar, sebagian lagi karena keterampilan khusus mereka menjadi tidak dibutuhkan oleh metode-metode produksi yang baru. Jadi kaum proletar didapatkan dari semua kelas masyarakat.
Kaum proletar mengalami beberapa tahap perkembangan. Bersama kelahirannya memulai perjuangannya terhadap kaum borjuis. Pertama pertentangan dilakukan oleh para pekerja individual; kemudian oleh para pekerja sebuah pabrik; kemudian oleh para pengurus suatu serikat pekerja, dalam sebuah lokalitas, melawan kaum borjuis individual yang mengeksploitasi mereka secara langsung. Mereka mengarahkan serangannya, tidak melawan kondisi-kondisi produksi kaum borjuis, namun terhadap instrumen-instrumen produksi mereka itu sendiri; mereka menghancurkan perangkat-perangkat impor yang bersaing dengan kerja mereka; mereka menghantam hancur permesinan, mereka membakar pabrik-pabrik, mereka dengan paksa berusaha merestorasi status pekerja yang dihilangkan pada


Jaman Pertengahan.
Pada tahap ini para pekerja masih berbentuk sebuah massa yang inkoheren yang tersebar di seluruh negara dan dipisahkan oleh kompetisi mutual mereka. Jika di suatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih tersusun, hal ini belum merupakan konsekuensi dari serikat aktif mereka, namun karena persatuan kaum borjuis, yang, dalam rangka mencapai tujuan-tujuan politisnya, didorong untuk mengatur gerak seluruh kaum proletar dan, lebih jauh, masih dapat melakukannya untuk sementara waktu. Pada tahap ini, karenanya, para proletar tidak melawan para musuhnya, namun para musuh dari musuh-musuh mereka, sisa-sisa monarki absolut, para tuan tanah, kaum borjuis non-industrial, borjuasi kecil. Jadi, seluruh gerakan historis dikonsentrasikan pada tangan-tangan kaum borjuis; setiap kemenangan yang dicapai adalah merupakan kemenangan bagi kaum borjuis. Namun, dengan perkembangan industri, kaum proletar tidak hanya meningkat jumlahnya; hal mana menjadi terkonsentrasi dalam massa-massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah dan terus bertambah. Kepentingan-kepentingan dan kondisi-kondisi hidup yang beragam dalam tingkatan-tingkatan kaum proletar semakin sama, dalam proporsi akibat permesinan menghapus semua pembedaan kerja dan hampir dimanapun juga mereduksi upah hingga pada level yang sama rendahnya. Kompetisi yang meningkat di antara kaum borjuis dan akibat dari krisis-krisis perdagangan manjadikan upah para pekerja selalu mengalami fluktuasi. Perbaikan permesinan yang terus menerus , yang selalu berkembang dengan lebih cepat, membuat kehidupan mereka menjadi lebih sukar; bentrokan-bentrokan antara para pekerja individual dengan kaum borjuis individual mengambil karakter pertentangan antara dua kelas. Kemudian para pekerja mulai membentuk kombinasi-kombinasi (serikat pekerja) melawan kaum borjuis; mereka bersatu dalam rangka memperjuangkan angka upah; mereka mendirikan asosiasi-asosiasi permanen dalam rangka membuat ketetapan sebelumnya untuk pemberontakan-pemberontakan berkala. Di sana-sini pertentangan pecah menjadi huru-hara.
Kini dan kemudian para pekerja merebut kemenangan, namun hanya sementara. Hasil nyata pertempuran-pertempuran mereka terletak, tidak pada hasil yang sekejap, namun pada serikat buruh yang terus meluas. Serikat ini dilanjutkan oleh sarana-sarana yang komunikasi yang makin membaik yang diciptakan oleh indutri modern dan yang menempatkan para pekerja dari lokalitas yang berbeda dalam kontak satu sama lain. Hanya kontak inilah yang dibutuhkan untuk mensentralisasikan banyaknya perjuangan lokal, semuanya dalam karakter yang sama, menjadi satu perjuangan nasional antar kelas. Namun setiap perjuangan kelas merupakan sebuah perjuangan politis. Dan serikat ini, untuk mencapai seperti para warga Jaman pertengahan, dengan jalan yang sangat menyedihkan, memerlukan berabad-abad, kaum proletar modern, berterimakasih pada jalan, yang dibangun hanya beberapa tahun.
Organisasi kaum proletar ini menjadi sebuah kelas dan secara konsekuen menjadi partai politis terus direpotkan dengan kompetisi antara para pekerja sendiri. Namun hal ini terus bertumbuh lagi, lebih kuat, lebih padat, lebih perkasa. Hal ini mendorong pengakuan legislatif dari kepentingan-kepentingan partikular para pekerja dengan mengambil keuntungan dari pembagian-pembagian antara kaum borjuis sendiri.... Bersama itu, bentrokan antar kelas dalam masyarakat lama melanjutkan jalan perkembangan kaum proletariat dengan banyak cara. Kaum borjuis menyadari dirinya terlibat dalam pertempuran yang konstan. Mulanya, dengan aristokrasi; kemudian, dengan bagian-bagian borjuasi sendiri yang kepentingan-kepentingannya menjadi antagonistis terhadap kemajuan industri; selamanya, dengan kaum borjuis negara-negara asing. Dalam seluruh pertempuran ini, ia meliahat dirinya didorong untuk menarik kaum proletar, untuk meminta bantuannya, dan, kemudian, untuk menyeretnya ke dalam arena politis. Kaum borjuis sendiri, karenanya, mensuplai kaum proletar dengan elemen-elemen politis dan edukasi general-nya; dengan kata lain, hal ini menghapuskan kaum proletar dengan senjata-senjata untuk melawan kaum borjuis.
Lebih jauh, seperti telah kita lihat, seluruh seksi kelas penguasa merupakan, oleh kemajuan industri, dipercepat menjad proletariat atau sekurangnya diancam dalam kondisi-kondisi eksistensi mereka. Hal ini juga mensuplai kaum proletar dengan elemen-elemen pencerahan dan kemajuan yang baru.
Akhirnya, dalam waktu dimana perjuangan kelas mendekati jam penentuan, proses disolusi terus berlangsung dalam kelas penguasa, nyatanya dalam seluruh jangkauan masyarakat lama... sehingga sebuah seksi kecil kelas penguasa mengambang dan bergabung bersama kelas revolusioner, kelas yang menggenggam masa depan ditangannya. Seperti... pada suatu periode permulaan, sebuah seksi kebangsawanan menyeberang ke kaum borjuis, maka kini suatu bagian kaum borjuis menyeberang ke kaum proletar dan, khususnya, suatu bagian ideolog kaum borjuis yang telah mengangkat diri mereka ke level pemahaman gerakan historis secara teoritis sebagai sebuah keseluruhan.
Dari semua kelas yang berdiri berhadapan dengan kaum borjuis kini, kaum proletar sendirilah yang sungguh merupakan kelas yang revolusioner. Kelas-kelas lainnya membusuk dan akhirnya menghilang dalam menghadapi masyarakat modern; kaum proletar merupakan produk esensial dan khusus darinya. Kelas menegah bawah, pemilik manufaktur kecil, pemilik toko, pengrajin, petani--semuanya berjuang melawan kaum borjuis, untuk menyelamatkan kepunahan mereka sebagai fraksi-fraksi kelas menengah. Mereka, karenanya, tidak revolusioner, melainkan konservatif. Tidak lebih, mereka adalah kaum reaksioner, karena mereka mencoba untuk memutar ulang roda sejarah. Jika kebetulan mereka revolusioner, mereka demikian hanya dalam pandangan terhadap peralihan mendatang menjadi proletariat; sehingga mereka mempertahankan, bukan kepentingan-kepentingan mereka saat ini, namun kepentingan-kepentingan mereka pada masa datang; mereka meninggalkan titik pijak mereka untuk mengadopsi titik pijak kaum proletar.
"Kelas berbahaya", sekam sosial (lumpen proletariat), yang secara pasif merupakan massa akar yang dilepaskan dari lapisan-lapisan terendah masyarakat lama, mungkin, di sana-sini, dimasukkan ke dalam gerakan suatu revolusi proletar; kondisi-kondisi kehidupannya, bagaimanapun juga, mempersiapkannya lebih jauh bagi bagian dari suatu alat yang disuap oleh intrik kaum reaksioner. Kondisi-kondisi sosial masyarakat lama tidak bertahan lama bagi proletariat. Kaum proletar adalah tanpa pemilikan; relasinya dengan istri dan anak-anaknya tidak lama memiliki sesuatu yang umum dengan relasi-relasi keluarga kaum borjuis; pekerja industri modern, keberatan modern terhadap kapital, sama di Inggris seperti di Prancis, di Amerika seperti di Jerman, telah menguliti setiap jejak karakter nasional-nya. Hukum, moralitas, agama baginya merupakan prasangka-prasangka banyak kaum borjuis, merupakan tameng dari sergapan terhadap kepentingan-kepentingan banyak kaum borjuis.
Semua kelas terdahulu yang mendapat keuntungan mencoba membentengi status yang telah diperolehnya dengan penundukan masyarakat bebas ke dalam kondisi-kondisi apropriasi. Kaum proletar tidak dapat menjadi tuan atas kekuatan-kekuatan produktif masyarakat kecuali dengan penghapusan model apropriasi mereka sebelumnya dan dengan demikian juga setiap model apropriasi sebelumnya yang lain. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk menjaga dan membentengi milik mereka; misi mereka adalah untuk menghancurkan semua perlindungan, dan jaminan, sebelumnya terhadap kepemilikan individual.

Semua gerakan historis sebelumnya merupakan gerakan kamerupakan gerakan kesadaran diri dan independen dari mayoritas yang besar, dalam kepentingan mayoritas yang besar. Proletariat, strata terbawah dari masyarakat kita saat ini... tidak dapat mengangkat dirinya naik, tanpa semua strata yang sangat berkuasa dalam masyarakat dilepaskan ke udara.
Walau tidak dalam substansi, namun dalam bentuk, pertentangan proletariat dengan kaum borjuis mulanya merupakan sebuah pertentangan nasional. Proletariat masing-masing negara harus, tentu saja, terutama menyelesaikan masalah dengan kaum borjuis-nya sendiri.
Dalam menggambarkan fase-fase paling general dari perkembangan proletariat, kita menapaki lebih kurang perang sipil yang terselubung yang berkobar dalam masyarakat yang ada hingga ke titik dimana perang ini pecah menjadi revolusi terbuka dan dimana penggulingan dengan kekerasan atas kaum borjuis meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.
Sampai saat ini, setiap bentuk masyarakat didasarkan, seperti telah kita lihat, pada antagonisme kelas yang menindas dan yang ditindas. Namun, dalam rangka menindas sebuah kelas, kondisi-kondisi tertentu harus diyakinkan padanya dimana ia dapat, sekurangnya, meneruskan eksistensi perbudakannya. Budak, dalam periode perbudakan, mengangkat dirinya kepada keanggotaan dalam komune, seperti juga borjuasi kecil, di bawah penindasan absolutisme feodal, berhasil berkembang menjadi borjuis. Para pekerja modern, sebaliknya, selain tumbuh bersama kemajuan industri, tenggelam lebih dalam di bawah kondisi-kondisi eksistensi kelasnya sendiri. Ia menjadi orang fakir, dan kefakiran berkembang lebih cepat daripada populasi dan kemakmuran. Dan disini ia menjadi bukti bahwa borjuasi tidak pantas lagi menjadi kelas penguasa dalam masyarakat dan untuk menentukan kondisi-kondisi eksistensi atas masyarakat sebagai sebuah hukum yang dikesampingkan. Ia tidak cocok untuk memerintah karena ia tidak berkompeten untuk menjamin budaknya dan perbudakan mereka, karena ia tidak dapat menahan membiarkan mereka tenggelam dalam semacam suatu negara dimana ia harus memberi makan mereka, di samping diberi makan oleh mereka. Masyarakat tidak dapat lama hidup di bawah borjuasi ini; dengan kata lain, eksistensinya tidak bertahan lama untuk harmonis dengan masyarakat.
Kondisi esensial bagi eksistensi dan kekuasaan kelas borjuis adalah formasi dan penambahan kapital; kondisi bagi kapital pekerja upahan. Pekerja upahan secara eksklusif bersandar pada kompetisi antara para pekerja. Kemajuan industri, yang kebetulan saja promotornya adalah kaum borjuis, menggantikan isolasi para pekerja, berkaitan dengan kompetisi, oleh kombinasi revolusioner mereka, berkaitan dengan asosiasi. Perkembangan industri modern, karenanya, memotong dari bawah kaki landasan dimana borjuasi menghasilkan dan mengapropriasikan produk. Apa yang karenanya dihasilkan borjuasi, di atas segalanya, adalah para penggali kuburnya sendiri. Kejatuhannya dan kemenangan proletariat secara sama adalah tidak dapat dihindarkan.

1 komentar:

  1. maaf ini karya sahabatku..
    sungguh ku kira bermanfaat maka dai itu ku tampilkan..
    terima kasih sahabat yg tal ku sebut namanya.

    BalasHapus