Sabtu, 31 Juli 2010

Judul buku : Pemikiran Karl Marx “ Dari Utopis ke Perselisihan Revisionisme”.

Penulis : Franz Magnis-Suseno.

Penerbit : Gramedia, Jakarta 2003.

Tebal halaman : 284 hlm.

TUA TAK LEKANG DITERPA ZAMAN

Karl Heinrich Marx lahir di Trier, sebuah kota di kawasan Rheiland Jerman (Prusia), dekat perbatasan dengan Prancis pada 5 Mei tahun 1818. Kedua orang tuanya adalh keturunan pendeta-pendeta Yahudi. Ayahnya, Heinrich Marx termasuk golongan menengah dan menjadi pengacara ternama. Sedangkan ibunya adalah puteri dari seorang pendeta Yahudi dari Belanda. Marx jebolan Universitas Hukum Bonn dan di dalam masa ini bakat filsafatnya mulai muncul. Di Berlin inilah Marx menjadi seorang hegelian (Club Young Hegelian). Anggota Hegelian adalah para pelajar yang mengkajiajaran-ajaran Hegel yang saat itu menjadi dogma dan ideology resmi di Jerman.

Setelah menyelesaikan gelar Ph. D dalam filsafat pada tahun 1841 di Bonn, Berlin, dan Jena. Maka dari sinilah karier Marx dimulai. Pemikiran Karl Marx merupakan adopsi antara filsafat Hegel, French, dan tentunya pemikiran dari David Ricardo (pemikir teori ekonom klasik). Bahkan Marx muda merupakan seorang hegelian. Analisa Karl Marx tentang kapitalisme merupakan aplikasi dari teori yang dikembangkan oleh G.W.F Hegel, dimana teorinya berpendapat jika,”sejarah berproses melalui serangkaian situasi dimana sebuah ide yang diterima akan eksis, tesis. Namun segera akan berkontradiksi dengan oposisinya, antitesis. Yang kemudian melahirkanlah antitesis, kejadian ini akan terus berulang, sehingga konflik-konflik tersebut akan meniadakan segala hal yang berproses menjadi lebih baik”.

Marx juga pernah menjadi seorang dosen di Universitas Bonn tetapi tidak lama. Lalu ia beralih menjadi seorang wartawan dan menerbitkan sebuah majalah yang di beri nama ”Rheinissche Zeitung”. Tetapi kareana di nilai terlalu radikal oleh pemerintahan Jerman saat itu maka Marx hendak ditangkap tetapi dia berhasil melarikan diri ke Prancis. Saat di Prancis Marx berkenalan tentang pemikiran revolusi karena Prancis saat itu merupakan negara terliberal. Selain itu marx juga belajar tentang penderitaan.

Pada tahun 1844 marx berkenalan dengan Fredrick Engels yang merupkan seorang sosialis dari London. Awal pesahabatan abdi antara Karl Marx-Engels ditandai dengan penulisan buku bersama yang berjudul ” Die Heiligie Familie ” (The Holy Family). Selain buku tersebut Marx dan Engels juga menerbitkan buku ”Das Capital” yang merupakan dasar dari ekonomi modern. Intisari buku tersebut berisikan antara lain :

  1. pengahapusan kekayaan tanah dan menerapkan sewa tanah bagi tujuan-tujuan publik.

    2. pengenaan pajak pendapat (tax income) yang bertingkat.

    3. pengapusan seluruh hak-hak warisan.

    4. penarikan kekayaan seluruh emigran dan para penjahat atau pemberontak.

    5. sentralisasi kredit pada negara melalui bank nasional dengan modal negara dan monopoli yang bersifat eksklusif.

    6. sentralisasi alat-alat komunikasi, dan transportasi di tangan negara.

    7. perluasan pabrik dan alat-alat produksi yang dimilki oleh negara, menggarap tanah yang tanah, dan meningkatkan guna tanah yang sesuai dengan perencanaan umum.

Tujuh butir pemikiran pokok itu bersumber kepada teori nilai lebih yang di gunakan para kaum kapital sebagai alat pengeruk keuntungan. Dengan teori itu para pemilik modal dapat mendapatkan laba sebanyak-banyaknya dengan modal yang terbilang kecil. Dengan cara penmerasan terhadap para pekerjanya. Pemerasan tenaga dan kehidupan si pekerjanya. Teori tentang nilai lebih menyikap apa yang oleh Marx di sebut rahasia perekonomian kapitalis.

Sebagai salah seorang filsuf juga Marx banyak memperhatikan tentang kehidupan sosial di sekitarannya. Kemudian mulailah Marx memasuki dunia sosiolog. Konsentrasi pembahasannya adalah tentang ketertindasan masyarakat bawah (proletar) oleh kaum pemodal (kapitalis) serta, dampak ketertindasan tersebut bagi kehidupan mereka. Marx berkesimpulan bahwa segala sesuatu berawal dari faktor ekonomi. Ekonomilah yang mengawali kehidupan manusia menjadi seperti sekarang tergolong menjadi beberapa kelas sosial.

Marx juga membahas tentang Hak Milik Pribadi. Bagaimana keterasingan manusia dapat di akhiri dan manusia dijadikan utuh kembali seperti masa yang lalu. Marx membedakan tiga tahap umat manusia. Tahap pertama adalah masyarakat purba sebelum pembagian kerja dimulai. Seperti yang di trangkan di atas. Tahap kedia adalah tahap pembagian kerja sekaligus tahap hak milik pribadi dan tahap keterasingan. Tahap letiga adalah tahap kebebasan, yaitu apabila hak milik pribadi sudah dihapus. Jadi sitem hak milik pribadi bukanlah sebuah ”kecelakaan” sejarah melainkan tahap yang pasti dalam perjalanan umat manusia menuju tahap yang ketiga.

Sebelum kita mengenal sistem masyarakat kita yang seperti ini (stratifikasi) dahulu masyarakat kita hidup bersama-sama dan untuk tujuan yang sama. Dalam kehidupannya tidak ada perbedaan serta ketimpangan atau pengklasifikasian. Kehidupan seperti ini di sebut dengan kehidupan komunal primitif. Lalu pada masa bercocok tanam mulailah dalam kehidupannya manusia sudah mengenal pmbagian tugas serta jabatan dalam kehidupannya. Contohnya dalam suatu kelompok terdapat orang-orang yang ahli dalam berburu, ahli berfikir (strategi), kepercayaan (animisme), dsb. Disinilah sebenarnya awal dari penggolongan manusia di lihat dari kedudukannya dalam bermasyarakat. Yang kemudian berkembang menjadi lebih kompleks pada masa perundagian hingga feodalisme dan seterusnya hingga kini.

Dalam perjalanan kariernya marx banyak melakukan kritik. Salah satu kritiknya yang terkenal adalah keritiknya terhadap agama. Marx mengkritik bahwa agama adalah ”candu bagi masyaraka”t. Mengapa demikian? Karena agama dinilai hanya sebagai alat penghibur seseorang dalam keadaan sedang kesusahan. Singkatnya Marx mengkritik sikap manusia yang jika sedang dalam kesusahan berlari menghadap tuhannya dan jika sedang senang lupa akan tuhannya. Maka dari itu agama di anggap seperti candu yang sifatnya dapat memabukan dan hanya menghibur semata. Tentu kritik ini disesuaikan dengan keadaan lingkunagn masyarakat Marx pada saat itu. Jika kita refleksikan atau kita samakan dengan kehidupan masyarakat kita masa sekarang tentu tidak jauh berbeda. Dimana masyarakat kitapun banyak yang seperti itu. Tetapi kita pun tak boleh menyalahkan mereka yang seperti itu karena agama adalah urusan kita dengan tuhan kita masing-masing.

Selain kritik tentang agama Marx juga melakukan kritik terhadap Negara. Bagi Marx adanya negara membuktikan bahwa manusia terasing dari kesosialannya (kemasyarakatan) karena andaikata manusia sosial dengan sendirinya, tidak perlu ada negara yang memaksanya agar mau besifat sosial. Singkatnya manusia adalah makhluk yang secara hakiki adalah makhluk sosial. Karena itu rasa sosial manusia haruslah timbul dari dirinya sendiri dan negara tidak perlu ikut campur dalam rasa kesadaran bersosial manusia. Jadi keterasingan dasar manusia adalah keterasingannya dari sifat yang sosial. Tanda dari keterasingan itu adalah eksistensi atau peran negara sebagai lembaga dari luar memaksa individu untuk bertindak sosial sedangkan, individu itu sendiri semata-mata bersifat egois. Masih banyak lagi pemikiran-pemikiran Marx yang lain dan jika di tuliskan akan memakan kertas yang menjuntai panjang. Ini semua hanyalah sedikit dari pemikiran tua yang revolusioner tak lekang di terpa zaman.

( ini belum di edit nih masih "orisinil" )
selamat membaca !!

nb; my tulisan nih.

3 komentar:

  1. JANCUKK..kiri mentok

    BalasHapus
  2. pemilikan pribadi haruslah patut tetap diakui.
    sebuah kebohongan besar

    BalasHapus