Selasa, 30 November 2010

SIRKUS KELILLING SANG AGENT PENGHIBUR




...Hiruk pikuk lingkungan kampus serta organisasinya yang berjualan karcis dan kacang goreng...”


Pagi itu mentari bersinar terang sekali, kicau burung dan triakan tukang Koran memecah keheningan. Sekitar pukul 10 pagi saya tiba di depan kampus dengan berkendaraan sebuah sepeda motor kepunyaan orang tua. Setelah mengambil karcis parkir yang harganya Rp 1000,- saya meneruskan jalan dan memarkirkan sepeda motor di depan minimarket kampus. Saya cukup khawatir meluhat parkiran yang penuh sesak bahkan tak ada selah untuk motor mengambil jarak. Dalam hati saya mengumpat dan mengutuk kebijakan kampus ini. Kampus sudah BHP tapi bukan lebih baik malah tambah semerawut. Malah lebih tertata lapangan parkir di pinggir jalan yang tanpa karcis. Tapi yang memalingkan pikiranku dan pandangan ku dari urusan parkir adalah segerombolan mahasiswa yang berarak keliling kampus sambil menumpang mobil bak terbuka dan berteriak. Mereka meneriaki ”Mari, Kecam Kekejaman Amerika Terhadap Palestina...!!!”. dalam hati saya berbicara apakah ini yang disebut Social Movment mahasiswa. Sungguh terlalu.

Memang kampusku terkenal akan sejarahnya. Konon disinilah dulu tempat para mahasiswa-mahasiswa yang berjiwa melawan menuntut ilmu. Namun itu dahulu dan kini sudah lain ceritanya. Kampus yang bertitlle ”green campus..” yang terletak di jantung Ibu Kota yang menyimpan butir-butir memori yang berbeda dari masa dahulu. Salah satu yang tidak dapat bisa dilupakan ialah mengenai Pergerakan Mahasiswa. Mahasiswa merupakan mahluk yang katanya memiliki intelektualitas tinggi dan memiliki peran dalam mobilitas suatu bangsa. Kehadiran mereka merupakan produk dari situasi yang didorong oleh perubahan suatu sikap politik rezim.

Padahal tidak diragukan lagi sepak terjang kaum intelektual dalam pergolakan sejarah indonesia yang dimulai pada penumbangan rezim Soekarno pada tahun 65. mereka dengan gagah berani turun kejalan dengan mengusung isu ”Awas Bahaya Laten Komunis!!” berhasil menjungkirkan sebuah rezim. Tetapi sialnya mereka harus menerima dosa turunan hinga kini karena meembantu rezim diktatorat militar naik menjadi penguasa. Kemudian pada awal 1998 mereka berhasil menghapus dosa turunan tersebut. Tetapi bukanlah kebaikan yang tersebar malah yang ada mereka oara mahasiswa yang iktut turun kejalan pada pristiswa reformasi kini malah ikut-ikutan menjadi anjing sebuah rezim yang penuh borok.

Dengan menyadang gelar ”Agent of Change” mereka merasa adalah jantung rakyat dan pahlawan rakyat. Untuk itu mereka banyak yang masuk dalam wadah-wadah yang di sebut Organisasi Mahasiswa. Kini pasca-reformasi Organisasi-organisasi mahasiswa bak jamur di musim hujan. Berbagai organisasi dengan berbagai idiologi banyak berdiri. Para mahasiswa yang merasa memiliki tanggung jawab berbondong-bondong masuk sebagai anggota baru. Mereka cenderung tidak peduli oleh latar belakang organisasi tersebut. Mereka hanya mendengan kata ”katanya..” dari para seniornya. Persetan dengan tujuan maka eksistensi dirilah dan ingin tampil beda yang membuat mereka tertarik.

Untuk awalnya mereka menjajaki kaki di arena organisasi, mereka memilih yang legal kampus yang biasa di sebut dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Sebenarnnya organisasi ini adalah sebuah mesin FAX penyampai pesan dari mahasiswa ke jurusan atau fakultas atau bahkan ke universitas mereka. Mereka didik untuk menjadi manusia yang siap untuk memimpin dan berjuang bersama rakyat. Latihan-latihan kepemimpinan dilaksanakan setiap tahun dan menghabiskan banyak sekali biaya. Tetapi sungguh sayang setelah mereka berhasil dan menjadi anggota mereka hanya menjadi sampah dari organisasi itu sendiri. Salah satu teman saya mengatakan bahwa BEM adalah tempat untuk terkenal dan menghabiskan waktu luang. Selebihnya adalah tempat pengumpul sertifikat. Sungguh ironi mendengarnya dimana seharusnya BEM dijadikan faximili bagi mahasiswa malah kini berubah menjadi mesin EO yang tak berguna dan benar-benar menjadi Eksekutif.

Saya pernah berbincang dengan seorang dosen yang dahulunya adalah seorang ketua BEM. Menurut presepsinya segala urusan dan kebijakan jurusan yang merugikan mahasiswa adalah tugas dari BEM untuk menyambung aspirasi mahasiswa agar mahasiswa mendapatkan haknya kembali. Dahulu BEM sering melakukan berbagai aksi-aksi. Mulai dari aksi demostrasi hingga aksi melalu aksara. Tetapi kini yang terjadi bukanlah demikian. Banyak yang berkata bahwa hal-hal tersebut adalah sebuah kebodohan semata. Fungsi BEM sebagai FAX tak berjalan sebagai mestinya malah lebih mirip BEM itu adalah sebuah wayang yang dapat digerakan dengan sesukanya. Jika si dalang suka terhadap hal-hal duniawi (hedonisme) maka tak ayal BEM kini diubah menjadi suatu badan Entertaiment yang fungsinya penghibur. Seperti karnaval sirkus keliling yang hanya berfikir untuk menjual karcis kepada para penonton dan berhasil membodohinya.

Setelah menempuh jalan legalitas biasanya para mahasiswa mencari organisasi ekstra yang sesuai dengan pandangannya. Organisasi-organisasi beraliran Islam, Sosialis, nasionalis, Kerakyatan atau bahkan Kesukuan banyak bermunculan. Bagai seorang pedagang kakai lima mereka semua berebut lapak di sebuah kempus. Bahkan kampusku tidak terkecuali. Setelah era 2005 menjadi basis sebuah PARPOL yang Goblok tak tahu aturan kini Kampusku menjadi basis organisasi ekstra kampus yang bersifat monoreligius. Tak ayal mahasiswa yang tidak meimiliki bekal pandangan mengenai organisasi-organisasi ekstra kampus berbondong-bongdong masuk dalam ”wadah” tersebut.

Mereka tidak tahu bahwa kini oeganisasi baik yang intra kampus dan intern banyak di jadikan mesin-mesin pengeruk massa. Mereka beraksi layaknya sebuah dalang dalam sebuah permainan wayang. Pemainnya tak lain dan tak bukan adalah para mahasiswa sendiri. Mereka memasuki salah satu organ ekstra kampus dan mereka mengikuti pelatihan kader yang isinya tak ayal adalah doktrin-doktrin kesesatan dan kepalsuan. Merekalah para mahsiswa yang buta akan sebuah pandangan. Bagi saya melihat mereka itu lucu. Karena seperti sebuah kuda yang mengenakan kacamatanya mereka tak dapat melihat keselilingnya. Akibat doktrin-doktrin dan dogma-dogma mereka berubah menjadi kuda yang berjalan tanpa melihat kiridan kanan.

Gerakan Mahasiswa kini bukan hanya mati suri, mereka lebih cocok dikatakan seperti patung sebuah benda mati yang dibentuk menyerupai makhluk hidup. Mereka tidak mampu mengakomodir isu-isu yang berkembang. Hal itu disebabakan dari doktinisasi yang mereka terima. Label kebanggaan sebagai ”Agent of Change..” yang disematkan didada setiap mahasiswa sudah tak berlaku lagi. Sebutan tersebut hanyalah sebuah romantisme masa lalu. Seperti halnya sebuah saputangan yang menutupi sebuah borok yang busuk. Bahkan mereka tidak pernah melakukan fungsi advokasi dan penyadaran terhadap masyarakat kecil yang tertindas oleh struktur suatu sistem yang dibuat secara terstruktur.

Mengapa hal ini dapat terjadi, suatu ironis saya bilang. Karena yang saya tahu ada 20% keringat rakyat dalam setiap almamater mahasiswa, dalam setiap hal-hal kampus mahasiswa. Tetapi mengapa mahasiswa kini seperti lupa akan kulitnya. Malah sepertinya mahasiwa membentuk sebuah kelas baru dalam lingkup sosial masyarakat. Dimana seorang mahasiswa lebih tinggi tingkat sosialnya ketimbang seorang tukang becak atau penjaja koran. Disinilah yang membuat saya merasa miris. Gerakan Mahasiswa terlihat lesu tak bergairah ditengah semangat untuk hidup rakyat jelata. Ini dikarenakan tidak adanya sebuah tradisi gerakan dalam kehidupan di kampus. Budaya berdialektika sudah dilupakan. Aktivitas-aktivitas akademis kampus seperti diskusi-diskusi sudah mereka tinggalkan. Mahasiswa seperti kehilangan jatidiri dan lupa pada asalnya.

Budaya tanding sudah lama mati dalam idea mahasiswa. Budaya hedonitas dan budaya asal nimbrung menjadi trend center bagi mahasiswa kini. Inilah yang ditakutkan oleh YB Mangunwijaya seorang budayawan yang menyatakan bahwa mahasiswa Indonesia yang kuliah dengan sebagian besar biaya ditanggung oleh rakyat, serta diharapkan menjadi pemimpin masa depan, setelah lulus kuliah justru semakin berkarakter egois, individual, serta hobi untuk mengadaikan harga diri bangsanya sendiri. Kepribadian yang tidak mandiri serta lambannya proses kedewasaan dalam menyikapi masa depan membuat mahasiswa lemah dan hilang prinsipnya hanya masalah perut dan sebuah gengsi. Ketertarikan mahasiswa kini telah beralih dari masalah sosial menjadi masalah life style. Diskusi intelektualitas berubah menjadi diskusi mode baju, pakaian, dan film-film box office terbaru. Masih layakkah kita menjadi ”Ratu Adil..” yang di idolakan rakyat semesta semua tergantung kita. Jalan kita masih panjang dan kini semakin bertambah gelap.


Yusuf

Sejarah’09