Rabu, 26 Januari 2011

serial CERPEN

Sendu Sunyi

Karni berdiri di bawah daun pintu gubuknya. Jari-jarinya yang kurus menggaruk-garuki rambutnya yang kusut dan ikal karna tak pernah merasakan sejuknya sampo. Tubuhnya kurus kering hingga, buah dadanya nampak kempis kosong tak berisi dan perutnya agak membuncit akibat buruknya makanan yang diperolehnya. 60 gram perhari sungguh sangat tidak mencukupi. Itupun bukanlah beras yang mengisi perutnya, tetapi hanya bulgur yang iya beli di toko milik saudagar Cina. Sawah yang merupakan ladang penghidupan keluargannya telah lama berpindah tangan akibat perangkap setan. Batang padi berganti dengan hamparan ribuan pohon tebu. Suaminya telah lama mati karena tak sanggup menanggung derita kenistaan lagi. Dengan napas yang kempas kempis Karni harus terus membanting tulang. Meneer itu masih baik hati padanya. Ia diizinkan untuk bekerja sebagai buruh harian di ladang tebu miliknya. Ya diladang sawahnya yang kini telah disulap menjadi perkebuanan tebu milik seorang Meneer Belanda. Upahnya hanya sebesar 20 sen bahkan terkadang bukanlah uang yang diterimanya tetapi, hanyalah sekantung bulgur dan terkadang sekantung beras yang rendah mutunya, penuh kutu.

Istananya hanyalah sebuah gubuk yang berada tak jauh di pinggir ladang tebu yang dulu adalah sawah miliknya. Sebuag gubuk yang beratapkan daun-daun rumbia dan berdindingkan anyaman bambu penuh lubang. Gubuk yang sekirannya lebih pantas sebagai kandang sapi itu di isi oleh dirinya dan tiga orang anaknya. Tiga orang bocah-bocah yang masih ingusan, kurus, dan kumal. Bahkan tulang rusuknya seperti ingin mencuat dari dadanya. Gubuk itu merupakan satu-satunya harta warisan dari mendiang suami tercinta, yang telah berpulang ke hadapan dewata sana. Entah dimana dia sekarang Nirwanakah. Entahlah. Sawah warisan yang tak seberapa luas telah habis akibat jeratan hutang. Hutang untuk menyambung kehidupan. Karni terjerat oleh seorang haji yang tak lain merupakan lintah darat desannya. Kini hidupnya hanyalah berpasrah, dan ia pun tak peduli jika ajal menjemputnya. Baginya hidup dan mati apalah artinya. Sama saja.

Setiap malam yang ia kerjakan hanyalah terbenam dalam lamunan yang tak henti-hentinya. Memikirkan mengapa nasibnya yang sangat buruk, tragis dan amat memilukan. Ia selalu bertanya mengapa dewa tak adil padannya. Menyalahkan nenek moyang yang sedari dulu selalu miskin dan hina, yang akhirnya tiba pada dirinya. Sempat muncul suatu pertanyaan apakah para Dewa itu benar-benar ada. Padahal menurutnya dirinya merupakan hamba yang taat. Hamba yang selalu meyembah Dewa, selalu peduli dan mengucapkan seribu puji pada Dewa. Setiap pagi selalu ia letakan sesaji untuk para dewa-dewa penunggu nirwana, meskipun hanya secuil bulgur dan segelas air sumur. Tetapi mengapa sepertinya Dewa tak memperdulikannya. Apakah karena sesaji yang ia suguhkan. Huh. Jika begitu apalah arti Dewa gumamnya dalam relungnya yang terdalam.

Sesekali ia layangkan pandang ke daun jendela. Di kejauhan sana nampak olehnya rumah haji Katmono, tengkulak dan sekaligus lintah darat di desanya. Rumah yang sangat besar pikirnya, dan entah sudah berapa ratus orang miskin hina yang telah menjadi korbannya. Ia memejamkan mata sejenak dan merasakan bahwa tubuhnya melayang hingga nirwana. Apakah aku telah mati, pikirnya. Slagi melayang tubuh yang kurus itu jatuh kencang menabrak bumi. Dan kesadarannya kembali. Kembali terlihat olehnya rumah haji Katmono. Hah, Haji pikirnya. Manusia yang seharusnya suci karena gelarnya. Terkadang ingin sekali rasanya tangannya mencabik-cabik dan menerkam wajah haji Katmono. Sungguh iblis bertopeng malaikat laknat. Namun ia kembali dalam lamunanya. Hanya lamunan. Wajah haji Katmono terus membayang dalam lamunan. Kemudian tergambar kembali sebuah peristiwa yang memilukan hatinya. Ketika haji Katmono bersama seorang kacungnya datang ke gubuknya. Hendak menagih hutang-hutangnya tetapi, Karni hanya bisa menatap nanar dan pasrah. Karena jengkel tak mendapatkan hasil Haji Katmono lantas memerintahkan kacung bangsatnya untuk mengobrak abrik gubuknya . karni hanya bisa berpasrah. Berpasrah dengan ketiga anaknya dalam dekapan. Setelah puas kemudian berlalu.

Kali ini Karni tersentak, ketiga anaknya merengek setengah menjerit di sisi dipan pembaringannya. Ketiga bocah-bocah kurus dekil itu menangis sejadi-jadinya. Anak-anaknya kelaparan itulah sebabnya. Karni tersayat hatinya. Buah hati tercintanya kurus kering seperti orang-orangan sawah. Perut mereka membuncit sebesar bola sepak karena kurangnya asupan nutrisi. Karni bangkit dan menuju belakang rumah dan bocah-bocah itu turut pula. Di bukanya bakul tempat penyimpanan beras. Tapi sayang hanya kehampaan yang ia dapatkan. Bulgur terkhir telah habis dilahap kemarin. Muncul kembali pertanyaan di mana para Dewa. Karni hanya menatap melas kepada buah hatinya. Hatinya yang tegar dan sekuat induk singa hancur lebur seketika. Sungguh tragis dan menyayat hati. Oh Dewa dimana kalian. Kalian menghilang disaat hambamu membutuhkan engkau.

Karni kembali pada pembaringannya. Anak-anaknya telah terdiru pulas dalam kembung yang teramat sangat. Karni tak kuasa melihat buah hatinya meminum air dengan ganasnya hanya untuk mengganjal perut. Tanpa disadari pipinya telah basah oleh kucuran air mata. Entah sudah berapa lama mata ini tak menghasilkan air, gumamnya. Tak berapa lama kemudian ia pun tertidur dengan masih meneteskan air mata. Sungguh pilu derita Karni. Sungguh sebenarnya zaman telah berubah. Di tanah biru sana sudah terjadi sebuah perubahan besar. Seperti halnya kutub yang telah mendapatkan sinar mentari pertama setelah, malam selama beratus-ratus tahun. Musim Semi. Berbagai hal-hal baru bermunculan bagai bunga dalam taman firdaus. Tetapi di sini di Hindia sungguh amatlah lain ceritanya. Negri para dewa ini sepertinya takan kenal pagi. Malam terus merajai, entah sampai kapan. Bangsa mata biru sungguh telah menjadi dewa. Hanya karena mereka berkasut. Oh sungguh dunia apa. Dalam cerita pewayangan Jawa yang berkasut hanyalah pandita dan para dewa. Maka pantaslah jika mana orang kita takut bukan mainnya pada manusia pucat mata biru. Bahkan kengeriannya mengalahkan kengerian kepada Batara Kala. Oh Dewa sungguh kau tinggalah kiasan semata.

Mentari merona di ufuk timur Karni terbangun dari pembaringannya. Hari yang sama seperti kemarin. Langkah kakinya gontai dan sempoyongan menuju sumur yang terletak di belakang rumah. Setelah mandi dan minum air yang benyak sebagai pengganjal perut ia pergi bekerja. Dengan bekal sebilah arit di tangan yang merupakan satu-satunya perkakas warisan suaminya. Baginya hari ini sama saja seperti hari kemarin. Karni bagai pion catur dalam lingkaran setan yang tak kunjung usai. Kini ia tak lagi berdoa dan memuji Dewa. Untuk apa, menurutnya Dewa tak ubah seperti orang tua buta dan tuli. Kini hidupnya hanya ada pada tangannya. Di hadapannya terhampar puluhan ribu pohon tebu. Karni teringat kembali pada masa kecilnya. Dahulu ia sering bermain-main di pematang sawah yang kini telah menjadi hamparan tebu. Oh Dewa.

Mentari terus merangkak ke khatulistiwa. Tangan kurus dan kering itu terus bekerja. Hari yang lambat baginya. Terus menerus tanpa henti. Berhenti berarti hukuman, para mandor berjaga dengan cemetinya. Terus dan terus saja. Akhirnya mentari meluncur turun dan siap untuk kembali pada pembaringannya di poros barat. Tapi hari ini nampaknya lebih baik dari kemarin. Ia pulang tidak dengan tangan hampa. Beberapa potong jagung ia oleh-olehkan kepada buah hatinya. Jagung yang ia curi dari kebun seorang peranakan. Biar tahu rasa gumamnya. Kebun jagung itupun dulu milik kakeknya apa salahnya jika ia ambil sedikit pikirnya. Karni terus berjalan bergontai menuju istananya.

Sungguh betapa girang dan rakusnya buah hatinya melahap jagung-jagung sampai ke bonggolnya. Dan Karni hanya meringis tak kuasa. Sungguh malang buah hatinya. Kian hari kian ia rasakah bahwa dewa tak lagi membutuhkannya. Seperti biasa Karni berbaring dalam pembaringan. Kembali memulai aluran lamunan yang tak kunjung usai. Dan kembali para dewa melintas dalam bayangnya. Baginya dewa hanya berpihak pada si kaya. Berpihak kepada manusia yang memberikan sesaji termewah. Dewa tidak berpihak padanya. Dewa hanya tertawa melihat keadaannya. Diam-diam dalam hati ia menghujat nenk moyangnya yang terlahir miskin dan nista. Menghujat dirinya mengapa menikah dengan seorang miskin dan hina pula. Andai ia terlahir rupawan nan jelita. Pastilah ia lebih memilih menjadi gundik dari pada harus menikah dengan pria miskin dan hina seperti almarhum suaminya. Sungguh Dewa tak adil padanya.

Tak lama Karni tersentak, ketika pintu gubuknya di gedor dan riuh ramai orang telah berkumpul di depan gubuknya. Karni seperti seekor tikus sawah yang terjebak di sudut lubang. Pasrah mati hendak diterkam. Teriakan-teriakan dan hujanan batu mulai berdatangan. Karni hanya bisa bersedekap dengan buah hatinya di pojok gubuknya. Pintu gubuk rubuh dan poranda. Warga dan petugas keamanan menyeretnya keluar. Karni tak berdaya. Ia hanya dapat melihat buah hatinya menangis dan menjerit. Karni di seret hingga ke balai desa. Caci-maki serta hujan batu menerpa wajah dan tubuhnya. Tidak pernah seumur hidupnya ia do sorak-soraikan oleh sebegini banyak manusia. Ada rasa bangga juga terkuak dalam dirinya. Tapi sayang hanya batu dan hujanan air liur yang ia dapat. Lemas dan pasrah hana itulah yang terngiang di kepalanya. Sendu sunyi sinden melantunkan gending pelipur lara. Dan dewa hanya tertawa melihatnya.

LORO