Kamis, 29 Juli 2010

PENYARINGAN DAN PARADOKSIAL MAHASISWA (pembaruan)

Biasanya pada awal masuk ke dalam lingkungan kampus terdapat sebuah acara yang tujuannya adalah memperkenalkan para mahasiswa baru terhadap sistem akademik kampus. Acara tersebut biasa dikenal dengan OSPEK ( Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus ). OSPEK merupakan kegiatan rutin kampus setiap awal tahun ajaran baru. Bagi mahasiswa baru, OSPEK adalah momok yang sangat menakutkan. Tak jarang orang berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengikuti acara orang gila yang satu ini. Layaknya saya, pengalaman ketika MOS ( masa orientasi siswa ) pada saat SMA jelas menjadi sebuah pelajaran yang sangat tidak mengenakkan. Namun bukan berarti saya menentang acara OSPE atau MOS, hanya saja agenda kegiatan dan bentuk kegilaan didalamnya harus dihapus. Departemen pendidikan perlu bertindak cepat agar kebodohan ini segera berakhir. Apalagi tujuan sekolah sebenarnya adalah untuk melenyapkan kebodohan. Tetapi kegiatan OSPEK telah tertransisi menjadi MPA (Masa Pengenalan Akademik). Penggantian ini dikarenakan, kegiatan OSPEK sarat akan kegiatan fisik dan tidak sesuai sasaran. Parahnya hanya bertujuan ajang balas dendam dan hura-hura senioritas pada praksisnya.
Masa Pengenalan Akademik atau biasa disebut MPA merupakan, kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh pihak kampus sebagai tanda awal perkenalan kampus terhadap para Mahasiswa Barunya secara edukatif dan inovatif. Tujuan dilakukannya MPA tidak berubah jauh dari tujuan OSPEK ialah untuk membekali para MABA agar mengenali seluk beluk kampus yang nantinya akan menjadi tempat mereka menempa ilmu selama empat tahun lebih. Biasanya MPA dilakukan dalam tempo 5-6 hari lamanya, yang terdiri dari, MPA Fakultas dan MPA Jurusan. Pada moment MPA Para MABA diperkenalkan dengan kampusnya mulai dari sistem birokrasi sampai sistem pembelajaran. Pihak kampus juga mengharapkan dalam MPA terjalin hubungan kekeluargaan antara MABA dengan MABA atau MABA dengan para pembinanya.
Seperti penjelasan di atas mungkin pada kampus-kampus lain pada umumnya MPA lebih dikenal dengan nama OSPEK. OSPEK dan MPA sebenarnya hanyalah tipis perbedaannya. Perbedaan OSPEC dan MPA yaitu, katannya OSPEC lebih kepada penggemblengan fisik, lebih keras, tidak ada tujuan edukasinya, dan lebih tanpa tolerisasi. Tetapi apakah MPA sudah lebih baik dari OSPEK?, MPA sebenarnnya tidak lebih baik dari OSPEK hanya saja MPA mengunakan cara yang ”halus” dalam penggemblengan para MABA.
Sebenarnya dalam MPA para MABA lebih ditekan secara mental ketimbang fisiknya. Contoh kecilnya ialah kewajiban membawa atribut perlengkapan MPA bagi para MABA. Bagi para panitia MPA hal tersebut merupakan hal yang memang sudah biasa tetapi yang harus diperhatikan apakah dampak hal tersebut bagi para MABA dan apakah para panitia memikirkan hal tersebut. Dapat kita ulas secara seksama dampak dan akibat dari kewajiban yang sebenarnnya tidak lah begitu bermanfaat. Tujuan indil dari MPA diabaikan oleh pihak-pihak yang takberakal bahkan, kegiatan MPA banyak yang dikomersialisasikan. Seperti contohnya bisnis atribut oleh para panitia. Dengan dalil agar mudah didapat dan pengisi pundi-pundi organisasi.
Tentunya para MABA tak dapat bnyak berbuat apa-apa atas perlakuan yang diterimannya. Para MABA banyak lebih bersifat patuh lantaran sekian banyaknya peraturan yang dibuat oleh para panitia MPA entah itu MPA Fakultas atau MPA Jurusan pasti peraturan akhirnya ialah pernyataan bahwa ”Panitia Selalu Benar”.
Padahal sudah sangat jelas sekali bahwa tujuan dari MPA adalah memeberikan pengetahuan kepada para calon mahasiswa tentang dunia kampus yang akan menjadi rumahnya sekama beberapa tahun. Membawa atribut yang macam-macam memang merupakan suatu tradisi yang telah lama. Tradisi pembodohan. Selain itu belum lama rektorat juga telah mengeluarkan fatwa tentang pelarangan ”atribut yang nyeleneh-nyeleneh pada kegiatan MPA tahun ini” (27 juli 2010). Jadi sudah jelas bahwa rektorat sendiri menginginkan MPA yang ”bersih” dan edukatif. Lalu jika masih ada kegiatan MPA yang aneh-aneh secara otomatis melanggar peraturan rektorat.
MPA jangan dijadikan ajang mencari untung oleh Fakultas ataupun oleh Jurusan karena, para orang tua MABA sudah cukup terbebani dengan administrasi kampus dan diperparah setelah makin mantapnya BLU di kampus kita tercinta ini. Jika tetap tidak ada perubahan, masih perlukah ikut MPA ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar